Selasa, 15 Februari 2011

MSG dalam Makanan


Makanan adalah kehidupan saya, saya hidup untuk makan. Kebiasaan keluarga besar saya adalah makan. Kebahagiaan kakek saya terbesar adalah melihat anak cucunya kumpul dan makan bersama-sama. Kakek saya adalah orang yang dianugerahi tangan yang selalu membuat makanan enak. Kalau makanan termasuk menjadi unsur-unsur kebudayaan, maka makan di keluarga saya adalah puncak kebudayaannya. Haha.

Namun sekarang ini saya sedang tidak berminat menulis tentang makanan enak. Saya ingin mengeluhkan betapa sekarang ini orang gampang membuat makanan enak dengan bumbu ajaib. Dan membuat orang lain mendapat akibat buruk dari tindakan mereka. Mulai dari bahan baku yang terkontaminasi pestisida, formalin, borak dan lainnya sampai pada cara memasaknya yang memakai bumbu penyedap seperti MSG (MonoSodium Glutamate). Dengan tambahan bumbu penyedap ini, orang yang tidak pandai (karena memasak bukan cuma bakat tetapi juga akses informasi dan latihan serta cukup bahan baku) memasakpun bisa menghasilkan masakan yang sangat enak menyaingi koki restaurant nomor satu. Seperti kata suami saya, kalau ditambahkan penyedap rasa, sandalpun terasa enak. Ha!

Lupakan sejenak tentang pestisida, formalin, borak dan lainnya yang ada dalam bahan baku masakan. Sebagai konsumen kita, bukan pengambil keputusan apakah kita akan memasukkan bahan ini kedalam masakan kita. Keputusan ada ditangan petani, peternak, pedagang, dan aktor lain dalam mata rantai sehingga barang itu sampai di kita, konsumen. Seperti orang yang dihukum mati, dengan tembakan. Hanya menunggu dan menerima. Sebagai konsumen, kita hanya bisa berharap bahwa entah mereka para aktor ini yang menyisakan sedikit nurani untuk tidak memasukan formalin (bahan pengawet mayat) kedalam ayam, atau berharap bahwa pemerintah melakukan operasi pasar lebih sering untuk menjerat pelaku nakal dan melakukan efek jera.

Saya ingin menyinggung tentang MSG. Ibarat media didalam teori komunikasi massa, MSG seperti peluru yang membombardir konsumen setiap harinya. Mulai dari iklan yang mendominasi di saluran televisi. Media audio visual yang paling banyak dilihat orang dari baru bangun sampai tidur, ini hanya berdasarkan pengamatan pribadi. Saya mengingat ada beberapa iklan produk penguat rasa masakan di televisi, misalnya Aji no Moto, Sasa, Mi won, Masako, dan lainnya. Serta varian MSG yang bermetamorfosis menjadi varian kecap, kaldu blok, bumbu-bumbu instant, tepung-tepung instant dan lainnya. Jumlahnya puluhan varian.  Saya membayangkan pengusaha produsen MSG ini hanya ongkang-ongkang kaki saja, produknya sudah laris manis di pasaran. Dan membayangkan anggaran belanja untuk iklan saja sudah mencapai milyaran, lihat saja iklannya yang bisa muncul setiap jam.

Serbuan MSG tidak hanya berhenti di dapur kita saja, MSG secara diam-diam ada didalam snack makanan ringan yang biasa dikonsumsi anak di sekolah, warung-warung disekitar rumah dan lainnya. MSG juga sering dimasukan kedalam makanan yang dijual di warung, rumah makan, atau restauran di pusat-pusat perbelanjaan. Bila saja ada satu hari, Nyepi untuk MSG, pasti kita tahu berapa beratnya kerja tubuh untuk mengurai bahan tambahan ini. MSG sedikit demi sedikit, setiap hari, menumpuk dan menggerogoti tubuh kita.
Dari informasi yang saya dapatkan dari Wikipedia, Mononatrium glutamat (juga disebut monosodium glutamat; disingkat MSG) adalah garam natrium dari asam glutamat . Funsginya adalah sebagai penyedap rasa. Satu ion hidrogen (dari gugus —OH yang berikatan dengan atom C-alfa) digantikan oleh ion natrium. Penemunya adalah Dr. Ikeda. Beliau prihatin terhadap kondisi fisik rakyat Jepang di kala itu. Sewaktu belajar ilmu Kimia modern di Jerman, dia membandingkan tubuh orang Jerman yang lebih tinggi dari pada orang Jepang. Dia juga mengamati makanan Jerman dan merasakan kesamaan cita rasa unik pada makanan Jerman yang juga ada pada makanan Jepang.

Setelah kembali ke Jepang, Dr. Ikeda memusatkan penelitiannya pada bumbu tradisionil Jepang, yaitu kaldu yang terbuat dari rumput laut (Kombu). Dia berhasil mengisolasi sumber rasa unik tersebut, yaitu asam Glutamat. Rasa ini kemudian diperkenalkannya dalam bahasa Jepang sebagai rasa “Umami”.
Penemuan Glutamat sebagai sumber rasa “Umami” mengukuhkan ambisi Ikeda untuk memperbaiki kondisi fisik bangsanya, yaitu melalui bumbu masak yang menambah citarasa dan kelezatan makanan Jepang. Dr. Ikeda mendapatkan paten atas metode produksi MSG. Namun, asam Glutamat murni yang dihasilkannya tidak menarik secara komersial karena sifat fisik dan kimianya. Hingga akhirnya Dr. Ikeda berhasil mensenyawakan glutamate dengan sodium menjadi Monosodium Glutamat (MSG). Dengan membagi hak patennya dengan seorang pemilik pabrik Iodine, Saburousuke Suzuki, Dr Ikeda kemudian berhasil mewujudkan hasratnya memproduksi dan memasarkan MSG secara massal.

Demikianlah, AJI-NO-MOTO (MSG) mulai dipasarkan di Jepang pada tahun 1909. Pada waktu itu MSG diproduksi melalui proses ekstraksi gluten hingga tahun 1960-an. Proses produksi ini tidak dapat memenuhi permintaan yang meningkat dengan cepat dari pasar Jepang dan dunia. Inovasi teknologi fermentasi pada tahun 1956 kemudian membantu usaha meningkatkan produksi MSG yang terus diterapkan hingga sekarang. MSG sekarang umumnya diproduksi dengan menggunakan bahan baku yang kaya glukosa seperti tetes tebu, singkong, jagung, gandum, sagu dan beras.

Meski masih ada pendapat pro dan kontra mengenai apakah MSG menjadi pemicu munculnya penyakit didalam tubuh, masih kuat perdebatan antara ilmuwan pendukung perusahaan dan ilmuwan pendukung konsumen. Tetapi sebagai konsumen saya berpendapat bahwa mengkonsumsi MSG dalam kasus tubuh saya, dalam takaran tertentu akan membuat mulut saya kering, tenggorokan panas dan perih, dan asam lambung  rasanya meningkat. Tidak lama setelah itu saya terserang radang tenggorokan. Saya ingat persis, system bekerjanya dalam tubuh saya, awalnya tenggorokan perih, kemudian demam, pilek, batuk , ke dokter, minum obat, baru sembuh.

Tentu saja bukan karena saya terkena radang tenggorokan kasus MSG ini ramai diberitakan. Kasus MSG mencuat ketika pada tahun 1969, ketika seorang dokter di Amerika Serikat makan di sebuah restaurant masakan China, sekitar 20 menit kemudian dia merasa mual, pusing dan kemudian muntah-muntah. Kumpulan gejala inilah yang kemudian dikenal dengan nama Chinese food syndrome karena masakan China di sana mengandung banyak MSG. Badan Pengawas Obat dan Makanan di Amerika Serikat kemudian mengumumkan batas aman untuk konsumsi harian MSG adalah 2 gr. Biasanya ukuran aman itu, dihitung berdasarkan berat badan seseorang.


Korban yang paling saya takutkan adalah anak-anak. Berdasarkan literature yang saya dapatkan dari internet, berdasarkan penelitian PIRAC menyebutkan tiga makanan ringan ternama yaitu Cheetos, Chitato dan Twistko, ternyata mengandung MSG lebih dari 1,02% per 100 gram. Bisakah anda membayangkan bila seorang anak memakan lebih dari satu bungkus setiap harinya? Dan bayangkan pola kesehatan tubuh anak bila dia mengkonsumsinya berulang-ulang?

Anak itu bisa jadi anak anda, anak saya, anak-anak dari sanak keluarga kita. Dan bayangkan betapa akumulasi harian MSG yang masuk ke tubuh anak, apabila makanan yang tersaji dirumah juga ditambahkan dengan MSG? Tidak seperti bahan tambahan lain yang tidak bisa kita control, penggunaan MSG ada ditangan kita, setidaknya penggunaannya didapur kita. Saya sama juga halnya seperti anda, para ibu-ibu, tentu ingin memberikan hal yang terbaik untuk anak.

Kakek dan nenek saya adalah orang yang tidak pernah memasak memakai bumbu penyedap. Mereka mengatakan coba belajar untuk memadu padankan bumbu yang ada, rasanya akan lebih pas. Kalau misalnya mereka mencicipi masakan saya dan mereka pasti tahu yang mana menggunakan bumbu tambahan atau tidak. Rasanya seret ditenggorokan, begitu kata mereka.  Saya selalu menggemari “Be Balung” yang dibuat kakek nenek saya. Memang benar cinta itu datangnya dari perut.

0 Komentar:

Poskan Komentar

Berlangganan Poskan Komentar [Atom]

<< Beranda